
Banjarmasin – DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Selatan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film Ghost in the Cell sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno Tahun 2026. Kegiatan yang diikuti kader partai, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan masyarakat umum tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan, etika kebangsaan, serta berbagai tantangan kehidupan sosial di era modern.
Pemutaran film ini tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga wadah diskusi dan pembelajaran sosial. Film Ghost in the Cell dipilih karena dinilai mampu menghadirkan kritik terhadap berbagai persoalan mendasar yang masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, mulai dari ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga praktik-praktik sosial yang merendahkan martabat manusia.
Melalui alur cerita yang memadukan unsur horor, komedi, dan satir sosial, film tersebut mengajak penonton untuk melihat berbagai ironi yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diajak merefleksikan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan sering kali berhadapan dengan sistem yang tidak adil, serta bagaimana penyimpangan dapat tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar ketika tidak mendapat koreksi sosial.
Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Selatan, Rizki Erimunadi, mengatakan bahwa kegiatan nobar ini merupakan bagian dari pendidikan politik dan kebudayaan yang sejalan dengan semangat Bulan Bung Karno.

“Melalui film Ghost in the Cell, kita diajak melihat berbagai ironi sosial yang hadir di sekitar kita, sekaligus merefleksikan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberanian mengoreksi berbagai praktik yang menyimpang dari cita-cita kehidupan berbangsa,” ujarnya.
Menurut Rizki, pesan yang disampaikan film tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Ia menilai ancaman terbesar dalam kehidupan sosial sering kali bukan sesuatu yang tidak terlihat, melainkan ketidakadilan yang tumbuh dan dibiarkan berlangsung dalam sebuah sistem.
“Film ini mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia sering kali bukanlah ancaman yang tidak terlihat, melainkan ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh dalam sebuah sistem,” katanya.
Rizki juga menyoroti salah satu karakter dalam film, yakni Prakasa Kitabuming, yang dianggap merepresentasikan wajah kekuasaan dan otoritas dalam sistem yang penuh paradoks. Melalui tokoh tersebut, film menghadirkan kritik terhadap praktik kekuasaan yang kehilangan orientasi moral ketika tidak disertai tanggung jawab dan keberpihakan kepada kepentingan publik.
“Melalui karakter Prakasa Kitabuming, film ini menghadirkan satir mengenai bagaimana kekuasaan dapat kehilangan orientasi moral ketika tidak disertai tanggung jawab, transparansi, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.






Kegiatan nobar ini menjadi salah satu upaya DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan untuk menghadirkan ruang-ruang kebudayaan yang mendorong kesadaran kritis masyarakat. Semangat yang diusung sejalan dengan nilai-nilai perjuangan Bung Karno yang menempatkan kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberanian berpikir kritis sebagai fondasi utama dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak menikmati karya sinema, tetapi juga memahami pesan-pesan sosial yang terkandung di dalamnya sebagai bahan refleksi untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan masyarakat saat ini.

PDI Perjuangan Kalimantan Selatan Dewan Pimpinan Daerah






