
BANJARMASIN – Upaya merawat sekaligus mengembangkan warisan budaya daerah menjadi semangat utama dalam Dialog Kebudayaan “Kakamban Habang” yang digelar di Banjarmasin, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Fatmawati Trophy 2026 ini mengusung tema “Sasirangan dan Kebaya Getang: Merawat Warisan, Merancang Masa Depan”, serta dirangkai dengan gelar karya dan presentasi peserta Lomba Desainer Fashion Fatmawati Trophy 2026.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Taruna Merah Putih Kalimantan Selatan sebagai organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mendorong pelestarian budaya sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkreasi dan berinovasi melalui dunia fashion berbasis kearifan lokal.
Dialog kebudayaan menghadirkan tiga narasumber, yakni perajin sasirangan Nurdiansyah, desainer fashion Hj. Kathrin Ambarsari, S.Hut., serta budayawan dan pemerhati kebaya Dr. dr. Hj. Siti Wasilah, M.Si., Med. Ketiganya menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan sasirangan dan kebaya getang sebagai identitas budaya Kalimantan Selatan, sekaligus mendorong lahirnya inovasi agar kedua warisan tersebut tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Tak hanya menjadi ruang diskusi, kegiatan ini juga menjadi panggung apresiasi bagi para peserta Lomba Desainer Fashion Fatmawati Trophy 2026. Melalui gelar karya dan presentasi hasil rancangan, para desainer muda menampilkan kreativitas mereka dalam mengolah kekayaan budaya lokal menjadi busana yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga identitas dan daya saing.
Ketua DPD Taruna Merah Putih Kalimantan Selatan sekaligus Ketua Panitia Fatmawati Trophy 2026, Rizki Erimunadi, S.H., M.H., mengatakan bahwa dialog kebudayaan dan gelar karya sengaja dipadukan sebagai upaya mempertemukan gagasan dengan karya nyata. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui diskusi, tetapi juga perlu diwujudkan melalui karya-karya kreatif yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Rizki menjelaskan, pelaksanaan Fatmawati Trophy 2026 merupakan tindak lanjut atas instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan kepada seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut di daerah masing-masing sebagai wadah pengembangan kreativitas dan pelestarian budaya.
“Fatmawati Trophy 2026 merupakan program yang diinstruksikan oleh DPP PDI Perjuangan untuk dilaksanakan di seluruh daerah. Para pemenang di tingkat provinsi nantinya akan mewakili daerahnya masing-masing pada ajang regional Kalimantan. Selanjutnya, peserta terbaik dari tingkat regional akan melaju ke tingkat nasional untuk bersaing dan menampilkan karya terbaiknya,” ujar Rizki.
Bendahara DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan, Fazlur Rahman, S.H., M.H., dalam sambutan sekaligus membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa PDI Perjuangan ingin menunjukkan kepada masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya, bahwa tugas partai politik tidak hanya terbatas pada urusan elektoral seperti pemilu atau pilkada.

Menurutnya, partai politik juga memiliki tanggung jawab utama dalam memberikan pendidikan politik di berbagai lini kehidupan masyarakat. Hal tersebut, kata dia, merupakan bagian dari upaya mewujudkan nilai-nilai Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa partai politik memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan politik masyarakat. Tidak hanya pada momentum pemilu, tetapi juga dalam membangun kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi politik yang sehat di tengah masyarakat,” ujar Fazlur Rahman.
Ia juga menekankan bahwa tema “Kakamban Habang” memiliki makna filosofis yang kuat. “Habang” yang berarti merah, merupakan warna sakral dalam budaya Kalimantan Selatan sekaligus identitas PDI Perjuangan. Karena itu, menurutnya, penggunaan simbol tersebut dalam kegiatan ini menjadi pengikat antara nilai kebudayaan lokal dengan proses pendidikan politik yang dilakukan.
“Melalui Kakamban Habang ini, kita ingin menjadikan budaya sebagai bekal untuk menjunjung tinggi identitas daerah sekaligus memperkuat karakter kebangsaan,” tambahnya.




Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga sarana penguatan nilai-nilai kebangsaan dan identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Sinergi antara pendidikan politik, pelestarian budaya, dan kreativitas generasi muda diharapkan mampu melahirkan ekosistem yang sehat bagi tumbuhnya karya-karya berbasis kearifan lokal.
Dengan demikian, sasirangan dan kebaya getang tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang terus hidup, berkembang, dan memiliki daya saing hingga ke tingkat nasional bahkan internasional.
PDI Perjuangan Kalimantan Selatan Dewan Pimpinan Daerah






